Kompetiblog

Sejak kecil saya mempunyai cita-cita klasik yang biasa meluncur dari mulut anak-anak ketika ditanya gurunya ingin menjadi apa bila sudah besar nanti. “Dokter!”. Jawaban pendek nan pasti meluncur dari mulut saya. Dan saya pun melalui masa-masa adolescent dengan bermain dan belajar, lurus aja, ya paling nakal-nakal sedikit. Selain menjadi dokter, profesi guru, pengusaha, peneliti, sempat terbesit dalam otak saya. Sayangnya saya tak sempat memikirkan cara lain untuk menggapai cita-cita saya selain bisa lulus SPMB dan masuk ke jurusan favorit.

Hingga suatu hari saya melihat salah seorang teman dan saudara saya yang mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan di luar negri. Mengenyam pendidikan di luar negeri mempunyai nilai prestise yang sangat tinggi di mata orang Indonesia. Diakui bahwa perguruan tinggi di luar negeri, dalam hal ini di ranah Eropa, yang sudah berdiri sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam. Sebagai contoh bidang arsitektur di negeri Belanda yang menjadi salah satu kiblat ilmu arsitektur dunia. Sejatinya bukan sekedar prestise, tapi kualitas yang diakui dunia.

Menuntut ilmu di luar kampung halaman akan memberikan suatu percepatan baru dalam banyak hal. Secara pribadi tentunya akan meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan arus dan daya saing tinggi, sesuai dengan sifat alami manusia untuk bisa bertahan hidup (halahh.. defence mechanism banget!), hal ini yang akan membuat seorang menjadi lebih tahan banting dan mempunyai motivasi tinggi. Dilihat dari fasilitas juga sangat menunjang kebutuhan mahasiswa dalam mencari bahan studi, perpustakaan online lengkap, jurnal terbaru, dan tentunya online access yang super duper kencang. Secara sosial, akan membuka suatu relasi dengan orang lain, dan dari relasi inilah yang akan mempermudah mengalirnya suatu informasi, kekerabatan, sampai pada jaringan baru di luar negeri untuk memajukan berbagai usaha baik dari segi sosial, ekonomi, bisnis, diplomasi, ilmu pengetahuan & teknologi, dan sebagainya. Artinya, walau raga tidak di rumah sendiri, jiwa masih bisa menjadi pribadi yang membela dan berjuang demi negerinya. Nasionalisme, suatu ujian buat warga negara Indonesia yang bermukin di negara lain, baik yang kuliah maupun yang bekerja. Belajar ke luar negeri bukan berarti tidak cinta pendidikan dalam negeri, namun bila menginginkan nilai lebih dan berkembang pesat maka eksodus keluar negeri adalah salah satu cara untuk sukses. Contohnyoa negara India yang mempunyai banyak putra dan putri yang berhasil dan terkenal lewat penelitian dan bisnis, kemudian kembali ke negaranya dan memajukan perkembangan. Investasi dan teknologi yang sudah diraup di luar negeri kemudian dimajukan dalam negeri sendiri, hal seperti ini akan membuka aliran devisa dan lapangan kerja baru. Tidak menutup kemungkinan, Indonesia akan menjadi negara berkembang dalam sepuluh tahun ke depan.

Yup, saya tidak akan mengumbar mimpi berlebihan. Namun, dari pengalaman teman dan saudara saya tersebut ketika mengambil bagian dari program beasiswa yang ada, tentunya bukanlah pekerjaan mudah untuk meluluskan keinginan kuliah di negeri wong londo. Kesempatan yang dibuka saat ini semakin banyak dan berjalan lurus pula dengan semakin banyaknya peminat. Hal yang utama adalah mencoba, sebagai salah satu kontribusi awal kita menuju perubahan. Kuliah di luar negeri bukan satu-satunya cara untu meraih kesempatan memasuki jejaring global dunia, namun kuliah di luar negeri merupakan salah satu cara yang efektif untuk meraup ilmu dan jaringan sekaligus.

Anyway, sudah pernah baca lengkap novel Edensor dari bagian Tetralogi Laskar Pelangi? Yang menceritakan hiruk pikuk perjalanan Ikal menuju Eropa untuk menuntut ilmu. Atau novel baru berjudul Negeri Van Oranje? Yang mengisahkan lima orang mahasiswa dalam menempuh pendidikan di negeri Belanda. Dua buah novel inspiratif ini memotivasi saya untuk mengikuti kompetiblog. Salah satu garis hikmah yang dapat ditelan dari novel tersebut adalah betapa majunya pendidikan dan ilmu pengetahuan di tanah Eropa dan perlunya usaha besar untuk menjadikan Indonesia lebih baik.