Dua minggu terakhir bolak-balik rumkit terus untuk berobat sekaligus dengan sukarela dirawat oleh sang rekans. Sedikit banyak semangat itu hadir, membasahi ubun-ubun ini tentunya. Bau eugenol, bau anyir, deru mesin bur, denting beradu bunyi instrument saat diletakkan dalam bengkok, seakan bicara, “Ayoo Ndah, kami menunggumu di sini”. Tahun depan…tahun depan.. harus! harus! harus! (gym)

Namun cita-cita itu seolah hambar saat mendengar cerita seorang sahabat yang telah jauh lebih dulu menyicipi asam garam pergelutan dunianya. Seolah tiada harga menjemput pendidikan selama sepuluh tahun, hilang menguap saat dihadapkan dengan realita, dengan kodrat sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu… Bersamaan itu pula, tuntutan kompetensi sebagai seorang klinisi (bila dituruti adanya) tentu akan membawa banyak pengorbangan yang bukan seratus-dua ratus. Jumlah SKP yang harus dipenuhi untuk mendapatkan STR dan SIP sangatlah berat, bukan hanya masalah pembiayaan namun juga masalah geografi.

Ah, dilema memang. Bila anda bukan perempuan, mungkin tak akan paham cara berpikir saya ini, atau mungkin saya sendiri yang terlalu berat berpikir demikian. Saya tak pandai menerka masa depan, saya hanya menyusunnya, yang terjadi nanti saya percayakan padaNya.. Diantara banyak ramifikasi, saya tetap mengobsevasi orifice terbaik yang kelak akan saya susuri. Ingin sekali untuk tidak memikirkan masalah ini… tapi bayangan itu selalu datang menghantui

;-)

hffffh…