Sebetulnya ini posting untuk peraih JFA (Januari Facebook Award), dikarenakan beberapa teman tidak bisa membaca langsung di notesnya, maka dengan segala otoritas, diposting ulang di blog saya, kemudian dibuat link di note FB. Saya persembahkan note karya Awal Pakaya sebagai the funniest note.
*plok-plok-plok*
========================================
Season Months Of Marriage
Tengah malam, lagi tidur pulas tiba-tiba ustadz nelpon meminta saya datang kerumahnya, sambil ngucek-ngucek mata yang memaksa terbuka, saya melirik jam. waduh! Saya kembali bertanya ke ustadz untuk apa, karena jarum jam menunjuk angka dua malam tepatnya subuh dini hari. Belum lagi rumah yang dituju lumayan jauh melewati gang-gang orang sering kena rampok. Berharap ada pertimbangan lain yang terjadi malah sebaliknya, Jawab ustadz hanya satu “Sekarang!!” tegas, jelas, bisa juga diartikan tak ada sesi tanya jawab. Hah! Jadi sempat mikir positive sangad ke ustadz kayaknya mau menyerahkan anak gadisnya yang manis dan solehanya minta ampun itu untuk saya selamanya. Wuihh.. selamanya gitu! Ho ho ho, tenaga dalam tiba-tiba meningkat, the power of ustadz mengubah cakra saya berlipat ganda, seperti Naruto mengalahkan Garra demi Sakura … %!? Tapi mikir-mikir kenapa tengah malam gini!!
Dengan berbagai pertanyaan menimbun kepala, saya cepat-cepat mengeluarkan motor dari garasi lalu memacu menuju rumah ustadz. Sebilah pisau berukuran sedang menemani, paling tidak pisau itu bisa memotong nyali yang mau rampok. Hampir sejam meliuk-liuk arah jalan, melewati gang-gang, dan beberapa ruas yang masih tak berumah, Alhamdulillah tiba juga di rumah ustadz. Sesaat setelah memarkir motor, saya mendekati pintu masuk lalu ngucap salam. Tanpa menunggu lama, ustadz membukakan pintu, sekilas keliatan beliau sudah menunggu sejak tadi atau mungkin belum tidur sama sekali, sorotan matanya tetap tajam seperti habis menghajar raja setan. Tanpa basa-basi saya dipersilahkan masuk dan sudah tersedia minuman hangat diatas meja. “Wuihh.. kayaknya beneran ne mau ngasih si soleha, hee …” ngayal dalam hati.
“Nak, diminum dulu airnya mumpung masih hangat”
“Iya pa, eh..! tadz” dubraks… hampir saja manggil papa, ngayal!! Sedikit gugup saya menghirup pelan air di gelas lalu duduk diam menunggu titah selanjutnya *mirip padepokan Majapahit.
“Begini nak, dua pekan lagi hari raya idul adha, jadi nak diamanahkan sebagai ketua panitia qurban!”
Glek!! perasaan berubah berantakan, jauh tengah malam begini hanya untuk mengatakan itu? Bukanya waktu nelpon tadi bisa? RrrrRrr… sisa air gelas jadi tak beraturan rasanya.
Tak ada penjelasan tambahan, surat kuasa, uang bensin, basa-basi atau foto-foto. Tak juga menunggu di-Usir! Saya pamit dengan perasaan kecewa, salaman tangan ustadz lalu melangkah ke parkiran motor. Subuh dini hari, ada hayalan tinggal hayalan, motor saya pacu (kek kuda!!) menuju kamar idaman, disana bantal dan kasur menunggu. Uahh… ngantuk!! *tengah perjalanan sempat mikir, pengen nusuk perut rampok …
***
Udara panas siang ini mendekati sempurna, apa lagi ditambah amanah tragis semalam dari ustadz, weh .. lumayan! Setelah dzuhur berjamaah, saya duduk mikir-mikir sambil bersandar di kaki penyangga masjid tempat sholat “apa iya ini yang namanya ketaatan?” Ughh.. keragu-raguan menjalankan amanah menumpuk dibenak, siang itu menjadi beban pikiran dan perasaan. melihat saya duduk bengong-bengong sendiri, pak Imam sholat dzuhur tadi menghampiri seakan tahu saya butuh bantuan.
“Ada apa nak? Jangan simpan telan masalah sendiri, nanti stress”
Sedikit senyum saya menanggapi pertanyaan pak Imam “iya pak, saya mau nanya, apa ada ketaatan tanpa ba bi bu?”
pak Imam tersenyum kemudian duduk rapi disebelah saya “Nak, apa yang akan kamu lakukan bila bermimpi tuhan menyuruh leher kamu disembelih? Saat itu, Bila kamu yakin kenabian Ismail, maka kamu juga akan yakin ada ketaatan tanpa ba bi bu seperti yang kamu pikirkan saat ini”
Wuihh.. kalimat pak Imam menginstall pikiran saya, sedikit saja sentuhan kata yang menjawab beban sejak semalam. Benar, amanah ini terlalu kecil untuk dikeluhkan, mungkin ustadz ingin tahu apa saya siap menjalankan atau tidak. Dipanggil tengah malam adalah ujian kesanggupan, sebagaimana mimpi Nabi Ismail dari Tuhan. Amanah ini sangat kecil untuk dikeluhkan dibanding ujian sang Nabi.
Sejak itu fokus target saya adalah bagaimana penyelenggaraan qurban terlaksana dengan baik. Saya kemudian membentuk panitia lalu membagi job kerja, dimulai pembelian hewan yang akan disembelih, penyiapan kantong untuk pembagian daging, dan pembuatan kupon bagi yang berhak mendapatkan qurban. Tidak lupa saya memintakan pak Imam menjadi penanggung jawab motong hewan.
***
Alhamdulillah dua pekan berlalu, amanah dari ustadz saya jalankan dengan baik. Ustadz pun puas atas kerja saya, target daging qurban terbagi merata pada yang berhak. Adapun beberapa kantong untuk panitia, masak dan makan-makanya di rumah ustadz, bumbu-bumbu gulai daging yang diracik si soleha menambah nikmat siang itu ^_^!! *uahh.. idul adha tahun ini begitu berkesan (ting!!)
Hingga satu malam berikutnya, persis waktu dini hari saat ustadz memberikan amanah panitia qurban, Hp berdering, dari jauh nada suara ustadz mengalun tegas, jelas, tak ada sesi tanya jawab meminta saya datang ke rumahnya “sekarang!!” jam dua dini hari saya bergegas menuju rumahnya, tanpa keluhan. Setibanya di rumah Ustadz seperti biasa disambut dengan hangat segelas air tanpa basa basi, saya pun tahu dan siap diberikan amanah apapun bila ini adalah tugas-tugas dakwah. Beberapa saat setelah meneguk air Ustadz mengawali titah
“Nak, hapalan qur’anmu sudah berapa juz?”
Glek!! Hawa berat mulai merasuk, bayang-bayang amanah pemecah otak gentayangan, sambil menelan paksa sisa rasa air gelas saya jawab “baru satu juz tadz… juz 30 tak sempurnah tadz..!$%#$^” *Rrr.. mending jujur sebelum diuji!!
“Gini Nak, tolong hapal tuntas surat Ar-rahman. Dua pekan lagi hapalkan didepan saya sebagai mahar anak saya”
Glek!! Khiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaahhhhuuuuuuuu (*!!*)
~ Soleha I am Coming ~